Diary entries forPerayaan Mati Rasa
Perayaan Mati Rasa
Aku tahu mereka ingin bikin semuanya terasa megah dan emosional, tapi hasilnya malah seperti drama yang dipaksakan. Banyak adegan terasa didramatisasi sampai karakternya jadi kehilangan jiwa, jujur aku nggak punya alasan sedikit pun untuk peduli pada nasib mereka. Satu-satunya hal yang masih bisa dinikmati hanyalah visualnya, yang lumayan mampu menahan rasa bosan.
Perayaan Mati Rasa
First and foremost gonna say that; diem-diem si Uta sinefil ternyata. Gw notis sepanjang film dia ada make 4 kaos film; Scott Pilgrim Vs. The World, Zodiac, Star Wars, dan Fight Club. Who can be more cinephile than him? Rispek is understatement! Haha. Anyway, as a whole package this one is good. Filmnya berkonsep dan make sense, metafor laut dan segala macem lapisan-lapisannya masih align sama cerita dan gak terkesan dipaksakan, which is satu hal yang perlu diapresiasi banget. However, buat gw pribadi, babak pertama Perayaan Mati Rasa ini masih berasa terlalu dangkal, gak cukup kuat untuk mengantarkan penonton ke babak kedua dan ketiganya. Especially alasan kenapa si Ian ini gedeg sama bapak n adeknya, sih. Character development-nya kayak apaan banget, soale there's no prob sebenernya, cuma perkara bapaknya kerja di kapal n jarang pulang. Maksud gw itu kan juga buat lu geblek & dia juga masih sayang kok sama lu. Gw berasanya karakter Ian ini jadi pick me bgt, gabisa gw simpati sama yang pick me kayak begini lol. But, luckily menjelang akhir babak kedua filmnya mulai menguat, berasa relate dan sedih brutal. Disandingkan dengan dua film panjang sebelumnya, Umay keliatan berprogres banget di sini. Looking forward for your future project, ya. Last, need to mention that I hate everytime Iqbal trying to act. Salah satu aktor yang kalo akting keliatan banget ga genuine, kayak gak tulus dan dipaksakan banget gitu, outputnya kadang jadi lucu dan ngeselin tapi di momen yang gak pas. Iqbal kayaknya kamu perlu belajar akting lagi deh biar makin mantap.